Apa itu Pundi Asa

Dipandu oleh nilai Pundi, Asa, dan Manusia, kami menggerakkan sumber daya melalui dukungan publik, filantropi, serta hibah institusional untuk menopang kerja-kerja hak asasi manusia yang berkelanjutan dan mandiri.

Cerita kami bermula ketika dua pendiri kami, Najwa Shihab (Nana) dan Alfatih Timur (Timmy), mengambil peran sebagai anggota dewan di sebuah lembaga bantuan hukum di Indonesia. Dari pengalaman ini, mereka melihat kontras yang nyata: besarnya dampak dari kerja-kerja organisasi tersebut, tetapi juga beratnya upaya untuk tetap berjalan dengan pendanaan yang terbatas dan tidak dapat diprediksi.

Hal ini mengingatkan kita pada tantangan struktural yang dihadapi banyak organisasi masyarakat sipil: ketergantungan pada bantuan dari luar, ketidakpastian serta siklus pendanaan yang tidak menentu, serta minimnya dukungan untuk kebutuhan operasional yang mendasar. Berbagai keterbatasan ini membuat organisasi sulit mempertahankan kerja jangka panjang yang dibutuhkan untuk memajukan isu-isu hak asasi manusia.

Menyadari kebutuhan yang kian mendesak, Nana dan Timmy menggandeng Arief Aziz (Arief) untuk membentuk sebuah yayasan. Gagasan tersebut mulai terbentuk pada masa pandemi, dan pada 2023, yayasan ini resmi berdiri dengan nama Yayasan Pundi Asa Manusia. Namanya mencerminkan elemen-elemen penting yang menjadi inti dari kerja-kerja kami: pundi, asa, dan manusia.

Misi yayasan ini, yang menjadi landasan dari seluruh kerja kami, berpijak pada dua pertanyaan penting:

1. Bagaimana menciptakan struktur pendanaan yang memastikan stabilitas finansial dan independensi organisasi yang kami dukung?

Dana abadi yang kami bangun bertujuan mendukung stabilitas finansial yang dibutuhkan organisasi agar mereka dapat berfokus pada dampak, sekaligus tetap menjaga otonomi penuh atas kerja mereka. Kami juga berupaya berkontribusi dalam membentuk ekosistem pendanaan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat sipil Indonesia secara umum.

2. Bagaimana merancang narasi yang dapat meningkatkan kemauan publik untuk mendukung isu-isu ini?

Meskipun Indonesia menempati peringkat tinggi dalam hal kedermawanan (CAF World Giving Index, Maret 2022), donasi untuk isu-isu hak asasi manusia masih tergolong rendah. Kami ingin menggerakkan dukungan publik, baik untuk meningkatkan kesadaran maupun menggalang dana, menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan isu-isu ini dan membantu memastikan keberlanjutan dampaknya.